DARI TANGAN GURU PENGGERAK, SISWA SMPN 2 BOLO MEMBUAT HAND SANITIZER
Cari Berita

Advertisement

DARI TANGAN GURU PENGGERAK, SISWA SMPN 2 BOLO MEMBUAT HAND SANITIZER

Rabu, 17 Maret 2021


BIMA , PORTALNTB.TOP-- Akibat Covid 19 yang terus berkepanjangan,  tentu masyarakat pun berburu masker dan hand sanitizer hingga menjadi langka di pasaran. 

Menurut Sri Aminingsih SE, salah seorang guru penggerak sekaligus pencipta hand sanitizer dari bahan lidah buaya,  bahwa barang yang wajib dimiliki oleh masyarakat saat ini adalah hand sanitizer.  Selain bisa membunuh bakteri virus corona yang menempel di tangan,  juga dapat digunakan untuk hal-hal yang lain seperti Menghilangkan Tinta Spidol Permanen Hapus Sisa Lem, Melepas Plester Tanpa Perih, Membersihkan gadget maupun Mengapus Cat Kuku (Kutek).

Untuk mewujudkan impian tersebut, Sri Aminingsih SE mengajak puluhan siswa SMPN 2 Bolo Kecamatan bolo kabupaten bima untuk membuat hand sanitizer melalui bahan lidah buaya.

Berikut Cara Membuat Hand Sanitizer dengan menggunakan lidah buaya

Alat ;

1. sendok 

2. Blender 

3. Mangkok

4. Saringan kecil

5. botol spray kaca atau plastik berukuran kecil


Cara membuat hand sanitizer:

1. Ambil daging lidah buaya dengan sendok. 

2. Haluskan  menggunakan blender  

3. Saring dan masukkan kedalam mangkok 

4. Campur dengan ekstrak jeruk lemon 

5. Masukkan 150 ml alcohol 70% kedalam campuran lidah buaya tadi. 

6. Aduk sampai merata

7. masukkan kedalam botol bekas parfum.

8. Hand sanitizer alami siap untuk digunakan. 


Dari kegiatan yang dilakukan tersebut, pihak  Sri Aminingsih,  mengakui banyak manfaat yang di dapatkan yakni Penanaman budaya positif pada diri siswa dan adanya pembiasaan pada diri siswa tentang pentingnya menjaga protocol kesehatan. Selain itu, siswa terbiasa untuk memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada disekitar rumah mereka untuk membuat hand sanitizer dirumah mereka juga. Dan Hand sanitizer ini juga bisa dikembangkan untuk menghasilkan uang .

Sementara kendala yang mereka hadapi  terkait dengan covid-19 ini membuat semua kegiatan tidak  bisa dilakukan secara maximal." Terangnya. (Tim)