' Sadis SDN ' Hanya Selembar Baju Batik Sekolah , Siswa Kelas I Membawa Pulang PIP Rp 75000
Cari Berita

Advertisement

' Sadis SDN ' Hanya Selembar Baju Batik Sekolah , Siswa Kelas I Membawa Pulang PIP Rp 75000

Rabu, 26 Februari 2020


PORTALNTB.TOP, | BIMA- Melalui Progaram Indonesia Pintar (PIP),  pemerintah berupaya mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah, dan diharapkan dapat menarik siswa putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikannya. 

Selain itu, PIP juga diharapkan dapat meringankan biaya personal pendidikan peserta didik, baik biaya langsung maupun tidak langsung. 

Ketika dengan program tersebut,  (PIP red), sejumlah orang tua siswa tingkat SDN Kara Desa Kara Kecamatan bolo, Kabupaten bima, dikeluhkan adanya dugaan pemotongan bantuan PIP dengan dalil " untuk membayaran pakaian sekolah.

Peristiwa ini dikeluhkan oleh pihak orang tua murid yang kurang mampu pada sekolah SDN setempat (kara red) pada beberapa awak media cetak maupun Online Rabu (26/2/2020).

Menurut pengakuan para orang tua murid, bahwa penerimaan bantuan PIP untuk siswa berfariasi. 

" SDN kelas 1 hanya menerima  Rp 75000, dari jumlah total yang diterima Rp 225.000, sedangkan tingkat kelas 2 hanya menerima Rp 275.000 , dari jumlah total  Rp 450.000." ungkap orang tua murid.

Terkait dugaan pemotongan PIP tersebut, sambung orang tua murid, untuk pembayaran satu lembar baju batik sekolah. " selain dicola kai baju sando,o anak sekolah ita doho, dompo piti PIP ake dicola karu,u kai baju ra nconggo ma ulu na. ungkap oknum Kasek SDN Inpres Kara Abdul Latif S.Pd yang dikutip dari masing masing orang tua siswa.


Selain itu, alasan yang lainya juga untuk mengurus administrasi pada kantor Camat, maupun Dinas Dikbupora Kabupaten Bima. Dan lucunya lagi pihak Abdul Latif S.Pd (Kasek red), sempat menitipkan pesan kepada orang tua murid usai menerima uang bantuan PIP Rp 75000, " ee na sodi si ba Umi Dinda re, piti PIP ra mbei ba kepala sekolah kara waura weli kai ba mada doho baju batik sekolah umie. " ucap warga .

Atas kejadian tersebut, Abdul Latif S.Pd yang didatangi di kediamanya beralamatkan diujung timur SMAN 1 Sila Desa Leu Kecsmatan bolo , Kabupaten bima , membantah. 

" bukan pemotongan, tapi berdasarkan hasil kesepakatan bersama dengan orang tua murid, yang mana uang tersebut untuk membayar selembar baju batik sekolah. Dan saya ngga terima bahasa pemotongan. Okey .tuturnya. (Tim)